
1
DENTING WAKTU FAJAR
Fajar nan indah mulai tampak diruang cakrawala. Berjuta bintang mengerdipkan cahayanya. Menemani eloknya wajah purnama yang menyinari jagad raya. Terlihat sangat indah, seindah sang penciptanya. Suasana malam yang pekat sedikit demi sedikit pudar. Angin berhembus lirih menerobos setiap ruangan. Suara gemersik pohon terdengar melambai-lambaikan dedaunan. Suara binatang-binatang malam pun saling bertautan. Malam bak simponi yang mengalun dengan indahnya meramaikan suasana. Mereka semua seakan mengumandangkan tasbih, tahmid, dan takbir untuk memuji yang kuasa. Malam yang sunyi kini sirna dan berganti dengan fajar bening yang siap menyongsong datangnya pagi dengan sinar benderang dari mentari. Mataku terbelalak menatap suasana cantik itu. Menerawang keluar angkasa lewat kaca jendela. Satu jam yang lalu aku sudah terbangun dalam keheningan malam untuk menghadap sang kuasa dengan menyebut asma agung-Nya.
Waktu subuh pun tiba. Sayup-sayup adzan dari menara-menara masjid menggema di seantero ibu kota Jakarta. Memanggil hati manusia yang di dalamnya ada hasrat untuk selalu meramaikan masjid dengan sholat berjamaah. Mereka akan selalu menuruti perintah tuhannya itu dan tak mungkin akan mengabaikannya. Karena cinta yang telah mendarah daging dalam dada pada Allah semata. Itulah janji setia mereka, para hamba Allah yang akan tetap memuji tuhannya dalam kondisi bagaimanapun mereka ada. Tak kenal kantuk dan lelah yang selalu hinggap di tubuh dan di mata. Mereka akan tetap jadi hamba yang setia untuk selamanya sampai kelak bisa menikmati surga.
Memang, waktu subuh adalah waktu yang terbilang paling berat bagi kebanyakan orang. Meskipun hanya sekedar untuk menjalankan kewajiban sholat subuh yang hanya dua raka’at saja. Tidak ada lima belas menit lamanya. Tapi banyak orang yang ogah dan malas. Mereka lebih memilih untuk terus menikmati tidur dengan selimut yang masih terasa hangat di badan. Dan mengabaikan panggilan adzan.
Alangkah ironisnya, apabila para binatang dan makhluk yang lainnya di sepertiga malam seperti ini mau dan terus bersenandung dengan tasbihnya, tahmidnya dan takbirnya. Ayam bertasbih dengan kokoknya. Begitu juga dengan anjing. Pepohonan bertakbir dengan lambaian daun-daunnya. Dan burung-burung pun bertahmid dengan kicauannya. Mereka semua bertasbih dan bertahmid memuji tuhannya di sepertiga malam yang begitu di utamakan. Akan tetapi manusia yang di ciptakan lebih sempurna dari mereka malah enak-enakan tidur di atas kasur yang empuk. Ironis sekali.
Walau bagaimanapun beratnya, aku harus melawan setiap kantuk yang menyerangku. Aku harus bangun sebelum para ayam jantan memekikkan suaranya untuk membangunkan manusia. Aku tak mau kalah dengan binatang ternak itu. Kalau memang aku mengatakan cinta pada Allah yang telah menciptakan fajar, aku harus membuktikan kata cintaku dengan bangun lalu bertahajud. Tidak hanya sekedar berkata aku cinta Allah, tapi juga harus dengan bukti nyata untuk selalu setia menjalankan perintah-perintah-Nya. Bukan cinta namanya kalau kita masih cuek dan ogah serta malas untuk menjalankan perintah-Nya. Aku harus bangun memenuhi panggilan-Nya. Dan ini adalah bukti cinta pertamaku yang harus aku tancapkan kuat di lubuk hatiku. Cinta pada Sang Maha Cinta pemilik dunia beserta isinya.
Usai sholat subuh berjamaah di masjid, aku meneruskan dengan membaca Al Qur’an yang telah aku hafal. Kegiatan ini rutin aku lakukan setiap hari untuk menjaga hafalan Al Qur’anku. Tidur sehabis subuh adalah kebiasaan yang tak patut dan tak pantas aku lakukan. Juga tak layak dilakukan oleh semua orang. Itu sama saja dengan membuang anugerah tuhan yang sangat berharga. Jangan sampai aku melakukannya.
“Fajar! Kemari Nak!” suara lembut seorang wanita memanggilku.
“Baik ummi.” Jawabku pelan.
“Adikmu sudah bangun apa belum?” Tanya beliau.
“Masih tidur um.”
“Bangunkan dia. Cepat!”
“Iya um.”
Kuletakkan Al Qur’an sejenak. Melangkah ke kamar sebelah. Kuketuk pintu.
“Dik Alya! Bangun dik!” kataku memanggil dik Alya. Tak ada jawaban. Kubuka pintu dengan perlahan. Dia masih tidur.
“Bangun dik. Dik Alya belum sholat kan?” tanyaku padanya.
“Alya lagi libur kak.” Ia menjawab dengan suara yang terdengar parau.
“Kamu sakit dik! Kapan? Kenapa nggak bilang-bilang?”
“Alya demam kak. Mulai tadi malam.” Suaranya lemah.
Aku keluar memanggil ummi lalu kembali lagi kekamar adikku. Tangan ummi memegang keningnya.
“Badan kamu panas Al.” lirih ummi.
“Kenapa nggak bilang sama ummi kalau sakit!”
“Tadi malam ummi sudah tidur lebih awal. Alya nggak berani mengganggu istirahat ummi.” Suaranya terdengar manja.
“Kalau begitu kita ke dokter ya. Nanti nggak usah masuk kuliah dulu.” Ummi menawari. Dik Alya menganggukkan kepalanya.
Di rumah ini kami tinggal bertiga. Aku, ummi Latifah dan juga dik Alya. Terkadang ada mbak Lina. Dia anaknya bu Ida. Dia sering membantu di rumah ini, tapi tidak selalu tinggal di sini. Karena dia harus membantu ibunya. Dia baru ke rumah kalau ada perlu. Atau ummi sedang bepergian. Dia masih ada hubungan saudara dengan kami.
Kami adalah keluarga miskin yang berasal dari desa kecil. Kami mencoba mengadu nasib dengan pindah ke ibu kota. Sudah delapan tahun ummi tinggal disini. Kami tinggal di Jakarta selatan tepatnya di Ciputat. Sekarang tidak lagi ikut propinsi Jakarta, tapi sudah masuk ke propinsi Banten. Di dekat kampus UIN syahid, dimana aku dan dik Alya menimba ilmu disitu. Aku mengambil bidang study Tafsir Hadist sedangkan dik Alya mengambil jurusan Kedokteran.
Awal-awal berada di Jakarta tidaklah seindah seperti yang aku rasakan sekarang ini. Dahulu, waktu baru pertama kali di Jakarta, ummi berjualan nasi keliling. Dengan menawarkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Atau membawanya ke kost-kostan mahasiswa. Pernah juga sebagai pedagang kaki lima. Berjualan di pinggir-pinggir jalan. Dagangan ummi juga pernah jadi korban penggusuran oleh pemerintah setempat. Semuanya ludes karena di luluh lantahkan oleh para penghancur itu. Ummi harus mencari alternatif usaha lain. Usaha yang satu gagal, dia beralih dengan usaha yang lain. Pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Begitulah awal perjuangan ummiku di Jakarta ini. Berjuang sendiri tanpa ada yang menemani. Berjuang untuk mencari sesuap nasi. Berjuang untuk mencari rejeki yang halal dari Ilahi. Berjuang untuk diri sendiri dan demi memikirkan anak-anaknya yang ada di desa supaya tidak terputus dari sekolahnya. Berjuang agar anak-anaknya bisa terus menuntut ilmu untuk memajukan bangsa. Perjuangan yang sulit dan penuh dengan duri-duri. Jatuh bangun ummi menjalani hidupnya agar tetap survive. Perjuangan menghadapi kejamnya ibu kota. Perjuangan yang tidak semua orang bisa dan mampu untuk menjalani dan menghadapi. Butuh pengorbanan dan niat yang kuat dari lubuk hati. Sehingga kesuksesan bisa di raih di suatu hari nanti.
Alhamdulillah! Ummi bisa menjalani cobaan demi cobaan dengan baik. Semua usaha pernah ummi coba. Yang terakhir ummi mencoba membikin baju yang di jahit sendiri, karena ummi sudah bisa menjahit sewaktu masih dirumah. Ummi mencoba menjadi penjahit kecil-kecilan. Banyak orang yang cocok dengan baju buatan ummi. Akhirnya banyak juga langganannya. Semakin lama usaha ummi semakin besar. Dan sampai sekarang ini ummi memepunyai dua konveksi. Ada dua tempat. Satu di Kalibata dan satunya lagi di Tangerang. Semuanya sudah diserahkan pada anak buah ummi masing-masing. Yang di Kalibata dipegang oleh bu Ida dan anaknya. Yang di Tangerang dipegang oleh pak Amin. Ummi mempercayakan pada mereka karena masih ada hubungan kerabat dengan kami di desa. Karyawan ummi pun banyak yang dari desa. Ummi lebih percaya pada orang-orang desa dari pada orang-orang kota. Kebanyakan juga perempuan. Kenapa? karena ummi ingin mengangkat derajat mereka dan juga menolong orang-orang yang datang dari desa agar tidak jadi gelandangan di kota Jakarta. Itulah rejeki yang di berikan oleh Allah semata. Kami hanya bisa berusaha dan terus berusaha sambil berdoa. The man purpose the god dispose. Begitulah kata pepatah bijak yang selalu aku ingat. Semuanya Allah yang memberikannya. Kami sangat mensyukurinya.
Aku baru menyusul ummi ke Jakarta sekitar empat tahun yang lalu. Meski sekarang keluargaku bisa dibilang mampu, aku tidak serta merta dengan seenaknya sendiri menggantungkan biaya kuliahku pada ummi. Setiap hari senin sampai jum’at aku mengajar di sebuah Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) yang ada di masjid Al-Fatah dekat rumahku. Dan setiap hari ahad sore aku ikut mengajar di LKI (Lembaga Kajian Islam). Lembaga itu milik ustadz Bashori Al-Amin. Beliau seorang muballig besar yang cukup dikenal dan disegani oleh masyarakat ibu kota, bahkan se-Indonesia. Beliau sering memberi ceramah-ceramah di televisi. Apalagi waktu puasa, banyak sekali yang menawarinya. Beliau cukup familier di masyarakat Jakarta, terlebih dengan kawula muda. Sehingga banyak dari mereka yang bersimpati padanya. Beliau lebih di kenal dengan Dai gaul. Karena seringnya bersama anak-anak muda. Kebetulan aku sangat dekat dengan beliau. Dan hal itulah yang membuat diriku merasa enak ketika bergaul dengan beliau.
Semasa kecil beliau sangat nakal. Beliau menjadi preman di kampung tempat tinggalnya. Pernah di penjara selama satu setengah tahun lamanya gara-gara kasus penipuan. Namun akhirnya beliau insyaf dan sadar dengan sifatnya. Waktu di penjara beliau menghafal Al Qur’an dan banyak belajar Islam lebih dalam. Keluar dari penjara beliau mondok di Jawa Timur. Itulah masa-masa hitam beliau. Seorang Dai mantan preman yang sekarang sifat premannya sudah lenyap dan bersih berganti dengan cahaya putih yang selalu di nanti oleh masyarakat Jakarta.
Selain kegiatan di atas aku masih punya satu kegiatan lagi yaitu menulis. Satu kegiatan yang menjadi semangat hidupku dan juga membantu kuliahku. Kegiatan yang sudah mendarah daging mulai sejak kecil dulu. Menulis cerita fiksi adalah kesukaanku. Di sela-sela kuliah, aku selalu mengisi dengan kegiatan itu. Sedangkan adikku baru tahun kemarin pindah ke Jakarta. Setelah lulus dari Madrasah Aliyah dia tidak ingin melanjutakan kuliah. Dia ingin membantu kakek dan nenek saja dirumah. Dia lebih suka tinggal di desa bersama mereka. Alasannya cukup simpel saja. Dia tak ingin terkena dampak dari kejamnya ibu kota. Namun aku memaksanya.
“Kamu harus meneruskan kuliah dik. Jangan berhenti sampai lulus Madrasah Aliyah saja.” Desakku waktu itu.
“Alya nggak suka tinggal di Jakarta kak. Jakarta itu kejam! Sungguh kejam! lebih kejam dari binatang buas yang selalu menerka mangsanya. Aku tak ingin hidup disana. Biar aku hidup didesa saja, membantu kakek dan nenek. Alya lebih suka begitu. Karena di rumah lebih damai suasananya dari pada di Jakarta.” Ucapnya menolakku.
“Jangan berpikir bodoh seperti itu dik. Itu sama saja kalah sebelum berusaha dan mencoba. Kita harus berjuang mengubah diri kita sendiri. Mencari ilmu, meraih cita-cita mulia. Karena hanya orang yang kaya ilmulah yang akan di angkat derajatnya oleh Allah. Ummi nggak rela kalau dik Alya dirumah saja. Dan tidak meneruskan menuntut ilmu. Ummi masih mampu membiayai dik Alya. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini dik. Karena masih banyak orang yang ingin kuliah, tapi mereka tidak mampu. Kita harus bersyukur karena Allah memberi rejeki lebih pada kita. Kalau kita tidak mempergunakan dengan baik rejeki dari Allah, itu sama saja tidak mensyukuri nikmat-Nya. Pokoknya dik Alya harus kuliah.”
“Alya tahu kak! Tapi hidup disana itu susah. Biaya serba mahal. Susah kak, susah! Banyak orang terlantar di kota metropolitan itu. Kalau soal kuliah, Alya kan bisa kuliah di sini. Tidak harus ke Jakarta kan kak.” Ia terus menolak. Aku terus memaksanya. Dengan berat hati adikku akhirnya mau mengikuti.
Aku memang tak ingin adikku hanya lulus MA saja lalu mencari kerja atau berdiam diri di rumah. Harta bisa di cari kapan saja. Namun ilmu susah di dapat bila kita sudah tua. Aku juga tak ingin adikku seperti teman-teman di desa yang langsung menikah ketika lulus sekolah. Malah ada yang baru lulus MTs langsung menikah. Lulus dari MI juga ada. Mereka punya alasan yang sangat sederhana. Anak cewek tidak perlu sekolah yang tinggi-tinggi. Toh akhirnya nanti ia akan kembali mengurus anak dan memasak di dapur. Begitulah kata mereka.
Sebenarnya aku paling risih ketika mendengar orang-orang di kampungku berkata seperti itu. Apa jadinya wanita negeri ini, apabila manusianya berpikiran seperti itu. Bukankah wanita adalah murobbi. Pendidik bagi anak-anaknya kelak. Bagaimana mungkin anaknya bisa pintar kalau orang tuanya saja bodoh dan tak berpendidikan. Selain alasan diatas, biaya juga menjadi penghalang bagi mereka. Untuk alasan yang satu ini mungkin bisa di benarkan, karena untuk biaya kuliah di negeri ini memang harus merogoh kantong dalam-dalam. Entah kenapa pendidikan disini masih begitu mahalnya. Banyak sekali anak yang tak bisa sekolah gara-gara tak mampu membiayai. Alhasil mereka pun dengan amat terpaksa ngamen dijalanan dan menjadi anak-anak yang terlantar.
Ironis bukan!!
Anak-anak yang seharusnya berada di bangku sekolah malah justru berkeliaran di jalan-jalan guna mencari uang. Mencari sebutir nasi untuk mengisi perutnya agar bisa menyambung hidup di hari esoknya. Mustahil negara ini masyarakatnya bisa pintar kalau pendidikannya masih mahal dan akan terus mahal. Padahal pendiddikan di luar negeri banyak yang geratis. Mengingat itu semua, rasanya aku ingin jadi warga negara asing saja agar bisa geratis di bangku kuliah. Di Indonesia geratis hanya ada dalam kampanye para calon-calon pejabat negara. Yang sama sekali hanya omong kosong belaka dan tiada pernah ada buktinya.
Itulah keluargaku. Meski kami punya segalanya hal itu tidak membuat kami berlaku semaunya. Kami tetap sederhana dan besikap apa adanya seperti waktu masih di desa dulu. Di rumah ada motor dan juga mobil. Namun untuk pergi ke kampus aku memilih jalan kaki saja. Jaraknya lima ratus meter lebih dari rumahku. Kawasan yang betul-betul ramai oleh mahasiswa. Kami lalui itu dengan memanfaatkan fasilitas yang telah di berikan oleh Allah padaku. Kaki. Ya, dengan berjalan kaki.
Sebelum kuliah aku dan adikku harus membantu ummi. Dik Alya membantu masak di dapur dan aku bersih-bersih rumah. Menyapu halaman dan mengepel lantai. Itu rutin setiap hari. Tidak usah menunggu komando dari ummi. Sudah otomatis kami jalani. Jangan sampai tidak membantu. Kami berdua sudah berjanji untuk saling setia menemani ummi.
Ummi hanya seorang diri disini. Mulai aku kecil ummi sudah diceraikan suaminya. Aku tak tahu sebab yang pasti. Karena perceraian itu terjadi pada saat aku masih balita. Aku hanya bisa menebak kalau ayahku mencintai wanita lain. Setiap aku bertanya pada ummi, beliau selalu menjawab tidak usah mengungkap masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu. Dengan jawaban seperti itu Aku pun urung untuk menanyakan hal yang lebih panjang lagi. Takut mengganggu pikiran ummi. Apa salah ummiku hingga ayah tega menceraikannya? Beliau sosok wanita yang perhatian pada keluarganya. Pada ayah dan juga anak-anaknya.
Dari sinilah janji setia untuk selalu menemani ummi terucap antara aku dan adikku. Kami harus selalu membantunya untuk meringankan beban hidupnya. Walaupun ummi seorang diri, tapi beliau tampak santai saja menjalani hidupnya. Tak pernah ada raut sedih dan susah di wajahnya. Beliau selalu menampakkan wajah yang ceria dan gembira. Ummi terlihat bersahaja dengan sikap dan tingkah laku bijaknya. Itulah ummiku. Sosok perempuan yang sangat ramah, perhatian dan banyak kasih sanyangnya.
***




